Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Taryana; Seorang Guru.

Ketika mentari pagi masih tertidur, berselimutkan halimun tipis yang menyejukkan udara. Lampu-lampu kota masih menguningkan jalan, mengarahkan siapapun yang sedang berjalan di atas kaki-kaki perjuangan. Muram, itu gambaran kota.
Dunia belum lagi bergerak untuk hidup. Akan tetapi, ia sudah rapih dan bergegas, menuju tempat di mana ia mengajar. Di lewatinya jalan-jalan muram itu; tanpa ragu, tanpa takut sedikitpun. Sepatu usangmu, dan stasiun kereta adalah saksi atas perjuangan hidup yang berpendoman untuk menyebarkan kebaikan; berupa ilmu.
Tak ada sedikitpun ia mengeluh atas jalan yang di laluinya, segala yang dilakukannya semata-mata untuk murid-muridnya, untuk membekalkan mereka atas ilmu yang bermanfaat.
Fisiknya tak segagah dulu, penyakit telah membuatnya menjadi kelihatan begitu kikuk, tak sedikit dari mahasiswanya yang menghina hal itu. Saban hari ia menjadi bahan tertawaan para mahasiswanya. Mahasiswa yang tak lagi menjadi manusia atas dirinya, terlalu banyak terpelajar tidak menja…

Postingan Terbaru

Suatu Negeri

Aiza

Dunia? Milik Siapa?

Orang-orang kecil (Puisi)

Timur juga Indonesia (Puisi)

Broken home? Kalian bisa!!!